Apa Itu Pentagonis Arti dan Penjelasan Lengkap Istilah Ini

Apa Itu Pentagonis Arti dan Penjelasan Lengkap Istilah Ini

Istilah “Pentagonis” memang tidak selalu muncul di kamus sehari-hari seperti KBBI. Namun kata ini sering ditemukan di tulisan akademis, opini publik, pembahasan ideologi, serta literatur audit dan akuntansi. Secara dasar, kata ini berasal dari “pentagon”, yang berarti segi lima. Dalam pemakaian bahasa Indonesia, “pentagonis” berfungsi sebagai bentuk sifat atau turunan untuk menggambarkan sesuatu yang berpola lima, memiliki struktur seimbang, atau berkaitan erat dengan konsep segi lima.

Secara geometri, pentagon adalah bangun datar yang memiliki lima sisi dan lima sudut. Jumlah sudut dalamnya mencapai 540 derajat. Bentuk segilima ini sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno dan sering dipakai dalam arsitektur, desain logo, simbol organisasi, hingga seni. Bentuk ini dianggap memiliki kesan stabil sekaligus dinamis karena tidak terlalu sederhana seperti segitiga atau persegi, namun juga tidak terlalu rumit.

Gedung paling terkenal yang menggunakan bentuk segi lima adalah The Pentagon di Arlington, Virginia, Amerika Serikat. Gedung ini dibangun pada masa Perang Dunia II, mulai tahun 1941 dan selesai pada 1943. The Pentagon menjadi markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat dan sering dijadikan metafora untuk kekuatan militer serta kebijakan pertahanan AS. Ketika orang bilang “The Pentagon memutuskan…”, yang dimaksud biasanya adalah lembaga atau pimpinan militer Amerika, bukan sekadar bangunannya.

Di Indonesia, penggunaan kata “pentagonis” muncul dalam beberapa konteks yang berbeda. Konteks pertama adalah pembahasan ideologi dan masyarakat. Beberapa tulisan opini dan artikel ilmiah menyebut frasa “masyarakat pancasilais yang pentagonis”. Maksudnya adalah masyarakat yang menjadikan lima sila Pancasila sebagai fondasi yang utuh, seimbang, dan saling menopang. Lima nilai tersebut digambarkan seperti segi lima: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bentuk pentagon dianggap melambangkan kesetaraan antar sila, bukan hierarki yang timpang. Setiap sudut dan sisi memiliki peran penting yang saling terkait.

Konteks kedua, dan yang paling sering dibahas di lingkungan pendidikan tinggi serta profesional, adalah teori Fraud Pentagon. Teori ini berkembang dari Fraud Triangle yang lebih dulu dikenal. Fraud Triangle hanya terdiri dari tiga elemen: pressure (tekanan), opportunity (kesempatan), dan rationalization (rasionalisasi). Pada tahun 2011, Crowe Horwath mengembangkan model tersebut menjadi Fraud Pentagon dengan menambahkan dua elemen baru, yaitu capability (kapabilitas) dan arrogance (arogansi).

Berikut penjelasan kelima elemen tersebut secara lebih rinci. Tekanan (pressure) biasanya datang dari masalah keuangan pribadi, target kerja yang terlalu tinggi, gaya hidup konsumtif, atau tekanan dari atasan. Kesempatan (opportunity) muncul ketika sistem pengendalian internal lemah, pengawasan longgar, atau ada celah dalam prosedur. Rasionalisasi (rationalization) adalah cara pelaku membenarkan perbuatannya di dalam pikiran, misalnya dengan berpikir “semua orang juga melakukan”, “saya hanya meminjam sementara”, atau “perusahaan sudah cukup kaya”. Kapabilitas (capability) merujuk pada kemampuan, posisi, pengetahuan, dan akses yang dimiliki seseorang untuk memanfaatkan celah tersebut. Arogansi (arrogance) muncul ketika seseorang merasa superior, percaya diri berlebihan, dan yakin bahwa aturan tidak berlaku untuk dirinya.

Teori Fraud Pentagon banyak dipakai dalam audit internal, akuntansi forensik, pencegahan korupsi di perusahaan, serta lembaga pemerintah. Di Indonesia, banyak skripsi, tesis, jurnal ilmiah, dan pelatihan auditor membahas model ini karena relevan dengan kasus-kasus kecurangan yang terjadi di berbagai sektor. Memahami kelima elemen ini membantu auditor dan manajemen mendeteksi risiko lebih dini serta merancang sistem pengendalian yang lebih kuat.

Selain dua konteks di atas, ada juga istilah “pentagonismo” yang diperkenalkan oleh Juan Bosch, mantan Presiden Republik Dominika. Ia memakai kata tersebut untuk menggambarkan pengaruh militer Amerika Serikat dalam politik global, sebagai bentuk imperialisme modern yang lebih tersamar. Meski jarang dipakai di Indonesia, istilah ini menunjukkan bahwa kata “pentagon” sering dikaitkan dengan struktur kekuasaan dan kekuatan lima sisi.

Menurut saya pribadi, istilah “pentagonis” paling berguna ketika dipakai secara jelas sesuai konteksnya. Jika membahas ideologi kebangsaan, hubungkan dengan Pancasila dan jelaskan makna keseimbangannya. Jika membahas fraud atau kecurangan, jelaskan kelima elemen Fraud Pentagon secara runtut beserta contoh konkret. Jangan mencampuradukkan tanpa penjelasan, karena pembaca bisa bingung dan makna menjadi kabur.

Cara menggunakan istilah ini dengan baik adalah selalu memberi definisi singkat di awal tulisan, lalu tunjukkan contoh konkret. Di tulisan ilmiah, sebutkan sumber teori dan tahun pengembangannya. Di konten populer atau artikel SEO, pakai bahasa yang mudah dipahami dan hubungkan dengan isu yang sedang dibicarakan masyarakat. Dengan pendekatan itu, kata “pentagonis” tidak hanya terdengar keren atau akademis, tetapi benar-benar menambah pemahaman pembaca tentang konsep yang dibahas.