Profil KH Marzuki Mustamar dan Pengaruhnya di Masyarakat

Profil KH Marzuki Mustamar dan Pengaruhnya di Masyarakat

KH Marzuki Mustamar dikenal sebagai ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama dari Jawa Timur. Ia aktif dalam dunia pesantren, organisasi, dan dakwah. Banyak kalangan mengenalinya melalui gaya bicara yang lugas serta penampilan yang sederhana.

Lahir di Blitar pada 22 September 1966, ia tumbuh di lingkungan keluarga pesantren. Ayahnya bernama Kiai Mustamar dan ibunya Nyai Siti Jainab. Pendidikan agama yang kuat sejak kecil membentuk karakter dan pemikirannya. Artikel ini mengulas perjalanan hidup, peran organisasi, serta pengaruhnya di masyarakat secara berimbang dan faktual.

Latar Belakang dan Pendidikan

Marzuki Mustamar lahir dan besar di Blitar. Sejak Madrasah Ibtidaiyah, ia sudah mendalami ilmu nahwu, shorof, fiqih, dan tasawuf. Ia berguru kepada sejumlah kiai di daerahnya, termasuk Kiai Hasbulloh Ridlwan dan Kiai Ridwan.

Pada jenjang Madrasah Tsanawiyah, ia sudah mampu mengkhatamkan kitab Mutammimah. Saat menempuh Madrasah Aliyah di MAN Tlogo, ia mempelajari ilmu manthiq dan balaghah. Ia juga mengkhatamkan Shahih Muslim kepada gurunya.

Setelah lulus MAN pada 1985, ia melanjutkan pendidikan ke LIPIA Jakarta. Kemudian ia menempuh S1 di IAIN Malang (kini UIN Maulana Malik Ibrahim) pada jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Jenjang S2 ditempuh di Universitas Islam Lamongan. Pada 2023, ia menyelesaikan S3 di Universitas Islam Malang.

Selain pendidikan formal, ia menempuh jalur nonformal di sejumlah pesantren. Kombinasi ilmu alat, hadis, dan pendidikan tinggi membuatnya dikenal sebagai ulama yang menguasai khazanah klasik sekaligus mampu beradaptasi dengan konteks kekinian.

Saya melihat latar belakang pendidikan semacam ini penting. Ia tidak hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga memiliki gelar akademik yang memadai. Hal ini memudahkannya berbicara di kalangan pesantren maupun akademisi.

Pembentukan Karakter Sejak Muda

Lingkungan keluarga dan pesantren membentuk sikap sederhana dan tegas. Banyak yang mengenalinya sebagai kiai yang tidak banyak basa-basi. Tutur katanya lugas namun tetap dalam koridor adab.

Karakter ini kemudian terbawa ketika ia memimpin organisasi dan mengelola pesantren. Santri dan warga sekitar melihatnya sebagai sosok yang konsisten antara ucapan dan tindakan.

Peran di Pondok Pesantren Sabilurrosyad

KH Marzuki Mustamar merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad yang berlokasi di Gasek, Malang. Pesantren ini menjadi salah satu pusat kegiatan dakwah dan pendidikan yang ia kelola.

Melalui pesantren, ia menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah kepada para santri. Pengajian kitab, pembinaan karakter, dan kegiatan sosial menjadi bagian dari aktivitas rutin. Pesantren juga menjadi ruang interaksi dengan masyarakat sekitar.

Keberadaan pesantren memberinya posisi strategis di tingkat lokal. Santri yang belajar kemudian menyebar dan membawa pengaruh ke daerah masing-masing. Model pendidikan yang menggabungkan tradisi dan kebutuhan zaman menjadi salah satu ciri pendekatan yang ia terapkan.

Pendekatan Dakwah dan Pendidikan

Dakwah yang dilakukan cenderung kultural dan inklusif. Ia aktif dalam majelis pengajian yang terbuka. Materi yang disampaikan mencakup fiqih, hadis, serta isu-isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Para pengamat pesantren menilai pendekatan semacam ini efektif. Masyarakat merasa dekat karena bahasa yang digunakan mudah dipahami. Pada saat yang sama, substansi keilmuan tetap terjaga.

Kiprah di Nahdlatul Ulama

KH Marzuki Mustamar pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang selama dua periode. Pengalaman di tingkat kota memberinya bekal untuk naik ke tingkat provinsi.

Pada masa khidmat 2018–2023, ia terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur. Jabatan ini menempatkannya sebagai salah satu pemimpin organisasi NU di provinsi dengan basis warga nahdliyin yang sangat besar.

Sebagai ketua PWNU, ia terlibat dalam berbagai program organisasi, penguatan struktur, dan respons terhadap isu keagamaan maupun sosial. Gaya kepemimpinannya yang tegas sering menjadi perhatian.

Pada akhir Desember 2023, PBNU memberhentikannya dari jabatan Ketua PWNU Jawa Timur. Alasan yang disampaikan terkait masalah internal organisasi. Peristiwa ini menjadi catatan dalam perjalanan organisatorisnya.

Meski demikian, pengaruhnya di tingkat basis tidak serta-merta hilang. Banyak kader dan warga yang tetap mengenalinya melalui peran di pesantren dan dakwah.

Pengaruh di Tingkat Organisasi dan Masyarakat

Sebagai pemimpin PWNU Jatim, ia memiliki ruang untuk memengaruhi arah kebijakan organisasi di tingkat wilayah. Keputusan-keputusan yang diambil berdampak pada ratusan cabang dan ranting di seluruh Jawa Timur.

Di masyarakat, pengaruhnya lebih terasa melalui pengajian dan pembinaan santri. Warga yang mengikuti majelisnya mendapatkan pemahaman keagamaan yang praktis. Pendekatan yang lugas membuat pesan lebih mudah diterima.

Saya berpendapat bahwa pengaruh seorang kiai tidak hanya diukur dari jabatan formal. Keberadaan pesantren dan jaringan santri sering kali lebih bertahan lama dibanding posisi struktural. Dalam kasus KH Marzuki Mustamar, pesantren menjadi fondasi yang tetap relevan.

Gaya Komunikasi dan Citra Publik

KH Marzuki Mustamar dikenal dengan gaya bicara yang langsung. Ia jarang berputar-putar dalam menyampaikan pendapat. Penampilannya sederhana dan tidak berlebihan. Ciri ini membuatnya mudah dikenali di kalangan warga NU Jawa Timur.

Sebagian kalangan menyukai ketegasannya. Sebagian lain menganggap gaya tersebut terlalu blak-blakan. Perbedaan pandangan ini wajar dalam organisasi besar seperti NU.

Di media dan forum publik, ia sering tampil menyampaikan pandangan keagamaan maupun respons terhadap isu tertentu. Konsistensi sikap menjadi salah satu yang diperhatikan banyak pihak.

Pandangan Ahli dan Pengamat

Pengamat organisasi keagamaan melihat KH Marzuki Mustamar sebagai representasi kiai yang memadukan tradisi pesantren dengan pengalaman organisasi modern. Latar belakang pendidikan formal dan nonformal memberinya kemampuan bergerak di dua dunia tersebut.

Di sisi lain, dinamika internal NU menunjukkan bahwa posisi kepemimpinan selalu diiringi tantangan. Pergantian atau pemberhentian pengurus merupakan bagian dari mekanisme organisasi yang sudah diatur.

Pengaruh di Masyarakat Secara Lebih Luas

Pengaruh KH Marzuki Mustamar paling kuat terasa di lingkungan pesantren dan warga nahdliyin Jawa Timur, khususnya Malang Raya dan sekitarnya. Melalui pengajian, ia menyebarkan pemahaman keagamaan yang moderat dan berorientasi pada praktik sehari-hari.

Santri yang pernah belajar di bawah bimbingannya membawa nilai-nilai tersebut ke masyarakat. Jaringan ini membentuk pengaruh yang bersifat kultural dan berkelanjutan.

Dalam konteks penangkalan paham radikal, beberapa tulisan akademik menyinggung gagasan kiai-kiai pesantren, termasuk pendekatan yang digunakan tokoh seperti KH Marzuki Mustamar. Pendidikan pesantren yang kuat menjadi salah satu benteng moderasi.

Bagi masyarakat umum, ia dikenal sebagai ulama yang berani menyampaikan pandangan secara terbuka. Sikap ini menimbulkan apresiasi sekaligus diskusi di ruang publik.

Kesimpulan

KH Marzuki Mustamar adalah ulama kelahiran Blitar yang menempuh pendidikan agama mendalam sejak kecil hingga meraih gelar doktor. Ia mengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Malang dan pernah memimpin PCNU Kota Malang serta PWNU Jawa Timur.

Pengaruhnya di masyarakat terutama berjalan melalui jalur pesantren, pengajian, dan jaringan santri. Gaya komunikasi yang lugas dan penampilan sederhana menjadi ciri yang melekat. Dinamika jabatan di organisasi NU menjadi bagian dari perjalanan organisatorisnya, namun peran kultural sebagai pengasuh pesantren tetap relevan.

Sosok seperti KH Marzuki Mustamar menunjukkan bahwa pengaruh ulama di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh posisi formal. Konsistensi dalam mendidik, berdakwah, dan menjaga tradisi pesantren sering kali meninggalkan jejak yang lebih panjang di tengah masyarakat.