Taliban muncul sebagai kekuatan yang mengubah wajah Afghanistan selama tiga dekade terakhir. Kelompok ini lahir dari semangat perlawanan dan keyakinan agama yang kuat. Hari ini, mereka memerintah negara itu dengan tangan besi. Anda mungkin bertanya, bagaimana kelompok yang pernah tersingkir bisa kembali berkuasa? Jawabannya terletak pada sejarah panjang, ideologi teguh, dan dinamika politik global.
Sejarah Pendirian Taliban di Afghanistan
Taliban lahir pada awal 1990-an di tengah kekacauan setelah penarikan pasukan Soviet. Para pelajar madrasah di Pakistan dan Afghanistan selatan bersatu. Mereka muak dengan perang saudara yang tak kunjung usai. Mullah Muhammad Omar memimpin gerakan ini dengan janji perdamaian dan keadilan Islam.
Pada 1994, Taliban mulai menguasai wilayah selatan. Mereka maju cepat karena dukungan masyarakat yang lelah perang. Hingga 1996, Kabul jatuh ke tangan mereka. Mereka mendirikan Emirat Islam Afghanistan pertama. Namun, kekuasaan ini hanya bertahan hingga 2001.
Selain itu, invasi Amerika Serikat setelah serangan 11 September menggulingkan rezim pertama. Taliban mundur ke pegunungan dan Pakistan. Mereka membangun jaringan gerilya yang tangguh. Perjuangan ini berlangsung dua puluh tahun.
Masa Insurgensi dan Kembalinya ke Kekuasaan
Taliban tidak pernah benar-benar hilang. Mereka serang pasukan Afghanistan dan koalisi internasional secara terus-menerus. Dukungan dari desa-desa pedesaan menjadi kunci. Mereka tawarkan keamanan dan hukum syariah yang sederhana.
Pada Agustus 2021, segalanya berubah. Pasukan AS mundur. Taliban melancarkan ofensif kilat. Dalam hitungan minggu, mereka kuasai seluruh provinsi. Kabul jatuh tanpa perlawanan besar pada 15 Agustus. Presiden Ashraf Ghani melarikan diri. Taliban kembali mendirikan Emirat Islam.
Menurut saya, kemenangan ini menunjukkan kegagalan pemerintahan sebelumnya yang korup dan terlalu bergantung pada bantuan asing. Para ahli militer sepakat bahwa strategi Taliban yang sabar dan berbasis masyarakat lokal menjadi faktor penentu.
Ideologi Taliban yang Membentuk Kebijakan
Ideologi Taliban berakar pada Deobandi, aliran fundamentalis Sunni, dan nilai-nilai Pashtunwali. Mereka tafsirkan syariah secara ketat. Tujuannya membangun masyarakat murni sesuai ajaran Islam versi mereka.
Mereka tolak pengaruh Barat. Musik, televisi, dan gambar makhluk hidup dilarang dulu. Sekarang, aturan serupa kembali. Namun, Taliban klaim mereka lebih fleksibel dibanding 1990-an.
Di sisi lain, nasionalisme Pashtun kuat mewarnai gerakan ini. Hampir semua pemimpin beretnis Pashtun. Hibatullah Akhundzada, pemimpin tertinggi sejak 2016, tinggal di Kandahar. Ia jarang muncul di publik.
Oleh karena itu, keputusan besar selalu datang dari dewan ulama di Kandahar. Ini beda dengan pemerintahan modern yang demokratis.
Kebijakan Pendidikan dan Hak Perempuan di Bawah Taliban
Taliban janji hormati hak perempuan sesuai syariah saat ambil alih. Realitanya berbeda. Pada Maret 2022, sekolah menengah untuk gadis ditutup. Larangan ini masih berlaku hingga 2026.
Perempuan dilarang kuliah sejak Desember 2022. Bahkan pelatihan perawat dan bidan dibatasi akhir 2024. Mereka harus pakai burqa lengkap dan ditemani mahram saat bepergian jauh.
Akibatnya, jutaan gadis kehilangan masa depan. Laporan PBB menyebut kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar per tahun. Saya yakin, pendidikan perempuan justru akan memperkuat Afghanistan. Para ahli seperti Human Rights Watch sependapat bahwa kebijakan ini bentuk apartheid gender.
Selain itu, perempuan dilarang kerja di banyak sektor. Hanya bidang kesehatan dan pendidikan dasar yang dibolehkan terbatas. Protes damai sering berujung penangkapan.
Situasi Ekonomi dan Krisis Kemanusiaan
Ekonomi Afghanistan runtuh setelah 2021. Sanksi internasional dan pembekuan aset bank sentral memperburuknya. Inflasi melonjak. Lebih dari 23 juta orang butuh bantuan kemanusiaan pada 2026.
Taliban larang opium meski dulu jadi sumber pendapatan. Langkah ini benar untuk jangka panjang. Namun, petani kehilangan nafkah mendadak. Krisis pangan melanda.
Di sisi lain, Taliban klaim tingkat kejahatan turun drastis. Jalanan lebih aman dari dulu. Namun, banjir, kekeringan, dan pengembalian pengungsi dari Pakistan dan Iran tambah beban.
Menurut saya, tanpa pengakuan internasional, pemulihan ekonomi sulit. Rusia mengakui Taliban pada Juli 2025. India tingkatkan kedutaan Oktober 2025. Langkah ini beri harapan kecil.
Hubungan Internasional dan Konflik Perbatasan
Taliban ingin diakui sebagai pemerintah sah. Namun, mayoritas negara ragu karena isu hak asasi. PBB tetap panggil mereka “de facto authorities”.
Hubungan dengan Pakistan tegang. Pada Februari 2026, pecah “perang terbuka”. Pakistan serang Kandahar dan Kabul dengan rudal. Taliban balas dengan drone. Puluhan korban sipil dilaporkan.
Oleh sebab itu, ketegangan ini tunjukkan Taliban belum kendalikan sepenuhnya kelompok militan lintas batas seperti TTP. ISIS-K juga tetap ancaman. Serangan bom di Kabul Januari 2026 bunuh tujuh orang.
Selanjutnya, China dan Rusia dekati Taliban demi stabilitas regional. Namun, Barat tetap tekan soal perempuan.
Tantangan Internal dan Hukum Baru 2026
Taliban hadapi perpecahan internal. Faksi Kandahar lebih konservatif daripada Haqqani Network. Keputusan selalu dari Akhundzada.
Pada Januari 2026, mereka keluarkan Peraturan Prosedur Pidana Pengadilan baru. Aturan 119 pasal ini kodifikasi hukuman cambuk, amputasi, dan hukuman mati publik. Kritik terhadap pemimpin jadi pidana.
Akibatnya, hak dasar semakin terbatas. Kelompok hak asasi sebut regulasi ini melegalkan perbudakan dan kekerasan terhadap perempuan. Saya anggap ini langkah mundur yang bahayakan masa depan.
Dampak Taliban terhadap Masyarakat Afghanistan
Rakyat Afghanistan capai keamanan relatif. Korupsi berkurang. Namun, harga dibayar mahal. Perempuan dan minoritas paling menderita.
Anak perempuan kehilangan mimpi sekolah. Keluarga miskin tambah miskin. Pengungsi pulang tanpa pekerjaan.
Di sisi lain, beberapa warga pedesaan dukung Taliban karena merasa dihormati. Mereka lihat pemerintahan ini sebagai pembebas dari pengaruh asing.
Para ahli internasional peringatkan bahwa tanpa inklusi, ketidakstabilan akan berlanjut.
Masa Depan Taliban dan Harapan Afghanistan
Taliban kuat secara militer. Namun, tanpa ekonomi kuat dan hubungan baik, sulit bertahan lama. Mereka perlu kompromi pada pendidikan dan hak perempuan.
Saya berpendapat dunia harus dialog pragmatis. Bantuan kemanusiaan tak boleh dijadikan alat politik. Afghanistan butuh kesempatan bangkit.
Pada akhirnya, rakyat Afghanistan yang tentukan nasib. Semoga suara moderat di dalam Taliban menang. Perdamaian sejati lahir dari keadilan untuk semua.






Leave a Reply